Aku Tak Punya Ayah - Sebuah Cerita Sedih

Gambar. pascalcampion.tumblr.com

-Ahmad Rais Habib S-

Jarum jam menunjuk angka tiga, subuh hari, kembali kuteguk kopi pahit dari cangkir bermotif bunga. Kedai telah sunyi beberapa jam yang lalu, hanya ada barista dan dua orang lelaki muda yang sedang asik bermain game di telpon pintarnya. Sedang di sudut belakang aku duduk di meja yang berdempetan dengan tembok.

Aku ingin menghabiskan malam ini dengan kesendirian, menikmati kesunuyian dan kopi dingin. Sebagai tanda perpisahan untuk kota tercinta yang telah kutinggali selama lebih dari dua puluh tahun. Lusa aku akan berangkat ke Ingris dan meninggalkan Jogja untuk melanjutkan pendidikan S2. Tak ada ucapan selamat dari teman-temanku, sengaja memang berita lolos seleksi beasiswa dari pemerintah ini ku rahasiakan.

Aku telah menghabiskan masa-masa pahit dahulu dalam kesendirian, tanpa bantuan dan tak ada yang peduli. Jadi akupun akan merayakan momen bahagia dengan sendiri. Hanya ibu, hanya dia satu-satunya orang yang tahu tentang rencana keberangkatanku esok. Sebenarnya aku berfikir untuk memberi tahu Evita. Tapi aku mengurungkannya, sebab tak ada alasan kuat juga untuk dia tahu urusanku.

Rasanya aku baginya tak lebih dari teman kelompok KKN saja, yang pernah tinggal seatap di pelosok desa. Selebihnya? Ya aku saja yang terlalu berharap. Dia bahkan memandangku seperti memandang tembok belaka. Yang diam tak bergeming, tak punya perasaan dan tak butuh cinta. Baiklah kawan, Aku akan ceritakan tentang Evita di kesempatan lainnya. Kali ini aku tak punya waktu panjang.

Subuh ini aku benar-benar ingin mengucapkan perpisahan pada kedai kopi, pada malam yang sunyi. pada Jogjakarta, kota istimewa penuh kenangan,. Beberapa hari setelah ini takkan lagi kudengar bahasa Jawa. Semuanya akan serba Ingris. Lalu Kapan aku akan kembali? Entahlah, mungkin satu tahun, dua tahun, sepuluh tahun atau takkan pernah.

Aku berencana menetap di sana, itulah mimpi terbesarku. Meninggalkan Indonesia untuk selamanya. Terlalu banyak duka yang hendak kukubur di sini, terlalu banyak luka di masa lalu yang tak ingin kuingat. Aku tidak membenci tanah airku, aku hanya marah pada beberapa penduduknya. Mereka adalah orang-orang yang telah memperlakukanku tidak adil. Mereka adalah orang-orang yang bertindak sesuka hati, mereka adalah orang-orang yang membuat air mataku mengering.

Baiklah, Aku akan menceritakan kisahku dari mana ini bermula agar kamu tak salah sangka. Jadi begini ceritanya.

***

Semua bermula saat aku masih bersemayam di rahim ibuku. Hari demi hari, perut wanita yang bernama Sabrina itu membesar. Perutnya menjadi buncit seperti bapak-bapak peminum arak. Tapi itu bukan karena minuman keras, hanya saja diriku yang semakin bertumbuh. Ibuku hamil empat bulan, perutnya tak lagi bisa ia sembunyikan dari teman-teman kuliahnya. Pada akhirnya ia menceritakan semuanya pada sahabat dekatnya, dan sahabat itu menyarankan ia untuk mengatakan semuanya pada nenek dan kakek di kampung.

Apa boleh buat, meski takut bukan kepalang, ibuku gemetar menceritakannya lewat telpon pada nenek. Lalu suara di balik telpon itu berubah jadi tangis histeris, kakek murka dan mengumpat sana-sini. Sedang nenek kehilangan kesadaran, dan ibu banjir air mata di kamar kosannya.

Aku tak tahu persisnya seperti apa, tapi semejak itu nenek dan kekek tak mau lagi tau tentang ibuku. Mereka tak ingin menanggung malu, tak sanggup menerima kenyataan. Kalimat terkahir yang diucapkan kakek pada ibu lewat telpon telah membuat semuanya semakin jelas.

“Sekarang silahkan jalani hidupmu sebagaimana yang kau kehendaki. Bagi kami, kamu telah tiada, ayah dan bunda anggap kamu telah mati. Jangan pernah pulang, membawa aibmu” itulah kalimat perpisahan dari kakek pada ibu.

Dan semenjak itu, ibu tak lagi berani pulang kampung, ia takkan sanggup menanggung malu dan tak ingin membebani keluarganya dengan aib. Pada saat itu, ibu benar-benar sendirian, teman-temannya menjauh, bahkan ia diusir keluar dari kosan putri dekat kampusnya. Dan pria yang menitipkan benih di rahimnya, telah minggat dari Jogja, ia pulang ke Sumatra menghindari tanggung jawabnya.

Beruntung saja ibu masih ada sisa tabungan yang ia gunakan untuk mencari kosan pasutri yang jauh lebih bebas dari kosan mahasiswi. Ibuku yang malang itu benar-benar terbuang, diasingkan dan dikhianati. Hari demi hari ia habiskan untuk menangis, beberapa kali ia hendak mengakhir hidupnya, namun ia kembali urung saat melihat dirinya di cermin yang semakin membesar. Terutama di bagian perut.

Ia membenci dirinya sendiri dan tak peduli dengan nyawanya, tapi ia menyayangi satu nyawa yang bersemayam di bawah jantungnya. Dia membelai perutnya, dia tersenyum dan menangis secara bersamaan.

Akhirnya ibuku memilih bertahan demi sosok janin yang ada di rahimnya. Ia melakukan apa saja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Ibuku adalah perempuan yang gemilang semasa kuliah, ia cerdas dan pantang menyerah. Hanya saja ia hanya pandai dalam urusan mata kuliah, tidak dengan urusan cinta.

Ibu memutuskan untuk menawarkan jasa untuk para mahasiswa yang kesulitan dengan tugas akhir. Dan dari situlah ia mendapatkan penghasilan, ibu juga melakukan banyak hal untuk mendapatkan uang tambahan sebagai biaya persalinanku kelak.

***

Akhirnya hari itu tiba. Aku lahir di puskesmas dengan berat hampir empat kilo gram. Semua organ tubuhku lengkap sempurna, tangisku kuat menggema, dan tanganku mengepal. Yang tak kumiliki adalah seorang ayah, nenek, kakek dan sanak saudara. Hanya ada ibu dan aku, serta petugas puskesmas yang mondar mandir menanyakan dimana keluarga ibu. Saat ditanya, ibu hanya tersenyum dan itu membuat petugas kesal, berhenti bertanya.

Aku melewati masa kanak-kanakku dengan penuh tanda tanya. Aku selalu merasa janggal dengan hidup kami, mengapa hanya ada aku dan ibu. Kenapa tak ada sosok perempuan beruban yang mengajakku jalan-jalan seperti anak-anak lainnya. Mengapa tak laki-laki lain yang seumuran ibu menemani kami. Mengapa hanya ada anak lelaki kecil bersama seorang perempuan pekerja keras.

Semakin hari semakin banyak yang kupahami, dan semakin berat hidupku. Aku adalah anak haram, yang lahir dari hasil hubungan tanpa pernikahan, terusir dari keluarga besar dan dicampakkan laki-laki bangsat yang darahnya mengalir dalam tubuhku.

Di sela-sela senggang, ibu sering bercerita kisah-kisah, termasuk kisah Nabi Isa dan bunda Maria. Ibu bahkan mengulang-ngulang kisah tentang perempuan suci itu dan bayinya yang bisa berbicara. Entahlah apa maksudnya bercerita tentang itu, mungkin ia hendak mengatakan bahwa ibu juga perempuan suci yang melahirkan anaknya tanpa seorang bapak.

Aku membenci laki-laki yang menghamili ibu, aku sangat murka padanya. Ia telah membuat kami sengsara, setidaknya ia harus bertanggung jawab. Bukan malah kabur bersembunyi di kampung halamannya. Aku tak tahu namanya, dan memang tak sudi pula menyebut namanya jika aku tahu. Ia telah menghancurkan kehidupan ibu, ia merenggut masa depannya, ia membuat aku menderita. Mataku selalu nanar jika membayangkan dirinya, imajinasiku absur jika membayangkan sosok ayah.

Bagi anak-anak seusiaku kala itu, seorang ayah adalah pahlawan dalam hidup mereka. Saat bocah-bocah itu bertengkar, mereka selalu saja menyebut ayah mereka sebagai juru penyelamat.

“Awas kamu, aku bilangin ayahku. Ayahku polisi”

“Aku tidak takut. Ayahku pelatih Karate” sahut-sahut dari mereka saat sedang mendebatkan siapa ayah yang paling hebat.

Ayah, sosok lelaki yang jadi panutan di keluarga, sosok lelaki yang diidolakan anaknya. Tapi bagaimana denganku yang tak kenal sosok ayah? Bahkan aku tak tahu namanya, ibu juga tak mau memberitahu siapa namanya. Mungkin ia tak sudi mengucap susunan huruf panggilan lelaki itu. Bahkan saat kucari nama ayah di akta kelahiran, tak kutemukan satu huruf pun di kolom “ayah”. Kosong, hanya ada nama ibu dan namaku. Lalu siapa ayahku? Hanya ibu dan Tuhan yang tahu.

Saat aku masuk sekolah dasar, ketika berada di meja registrasi, seorang petugas menanyakan nama ayahku pada ibu. Lalu wajah ibu berubah jadi merah, ia menunduk dan pura-pura tak mendengar pertanyaan itu. Ibu memalingkan pandangannya ke arahku. Aku hanya membisu, tak mengerti. Hingga akhirnya kini aku tahu mengapa ibu bertingkah aneh waktu itu.

Pertanyaan itu layaknya sebagai hukum moral bagi ibu, selalu saja masa lalu membayanginya. Selalu saja wajah penyesalan itu menggerogoti senyumnya, selalu saja. Kata ayah menjadi teror untuk ibu, dan bagiku kata ayah adalah kata yang paling menjijikkan, memuakkan, bahkan lebih hina dari kata anjing.

Andaikan aku punya kekuatan super, aku hanya ingin menghapus kata ayah di kamus kehidupan. Begitu banyak perempuan malang, anak tak berdosa yang harus menderita sepanjang hidupnya, hanya karena satu kata, ayah. Betapa tersiksanya aku saat pelajaran bahasa Indonesia dan mulai menulis tentang tema keluarga dan menceritakannya di depan kelas.

Guru-guru di sekolahku tak kalah menjengkelkan, mereka begitu sering bertanya apa profesi ayah pada murid didiknya. Ketika semua anak-anak bangga menyebutkan nama ayah dan pekerjaannya. Aku harus menjawab apa? Haruskan kujawab bahwa ayahku adalah Iblis yang bertugas membuat hidupku jadi susah?

Ketika seseorang terlahir tanpa ayah, saat itulah dunia menjadi neraka baginya. Saat itulah kehidupan sosial menjadi hukuman untuknya. Hanya penyendirian, hanya saat tak bersama siapa-siapa ia bisa menemukan ketenangan.

Kata ayah adalah, satu kata yang paling kubenci. Siapa pencipta sebutan itu? Panggilan untuk laki-laki yang menitipkan sperma di rahim ibu. Aku benci seseorang yang telah menciptakan sebutan ayah. Aku membeci hidupku, aku marah pada Tuhan yang meniupkan ruh ke jasadku.

Terimakasih telah mendengarkan ungkapan benciku pada laki-laki yang kerap dipanggil ayah. Di lain kesempatan akan kuceritakan part sedih hidupku yang lainnya. Selamat malam


0 Komentar

Terlama