Arogansi Kaum Rombongan, Meski Rame-Rame Belum Tentu Paling Benar



Baru-baru ini jagad twitter diramaikan oleh trending ‘Plat AA’ yang digunakan oleh seorang pengendara honda Beat. Ia terlihat mengacungkan jari tengah kepada sekelompok pengendara sepeda. Kemungkinan besar pengendara motor tersebut merasa jengkel terhadap para pengendara sepeda karena merasa terganggu oleh gerombolan tersebut.

Tapi saya tidak mengerti detail kejadiannya, sehingga rasanya enggan untuk memberi komentar lebih jauh soal fenomena ini. Tulisan ini tidak ditujukan pada kejadian tersebut, bukan dukungan pada pengendara motor dan juga bukan penghakiman pada kelompok pesepeda. Saya lebih ingin menyoroti jenis fenomena yang kerap terjadi dalam masyarakat kita.

Ada begitu banyak contoh kasus, dimana seseorang akan merasa benar dan arogan ketika sedang ramai-ramai. Hal seperti ini bisa menjangkit siapa saja, bukan hanya komunitas tertentu. Sering kita dipertontonkan arogansi dari kelompok tertentu, baik di jalan atau pun tempat umum lainnya.

Mengapa orang-orang merasa aman untuk berbuat semena-mena ketika mereka ramai? Mengapa orang-orang merasa benar hanya karena mereka banyak?

Memang tidak selalu, namun kerap terjadi. Contoh sederhananya adalah, main hakim sendiri pada maling atau bahkan orang yang dituduh maling dan belum jelas dia maling benara atau tidak. Dulu pernah ada kejadian seorang tukang servis amplifier dibakar hidup-hidup oleh massa karena dituduh mencuri. Singkatnya ia terlihat keluar dari musholah membawa sebuah amplifier. Orang-orang yang melihatnya mengira dia mencuri amplifier dari mushola. Padahal dia sekedar singgah sholat dan membawa amplifier milik pelanggannya masuk ke mushola, karena takut hilang jika ditinggal di motor.

Ini adalah satu dari banyak contoh kasus, dimana orang-orang merasa bebas berbuat apapun ketika mereka ramai. Ini memang negara demokrasi, tapi bukan berarti kebenaran ditentukan mutlak oleh suara terbanyak. Bukan berarti karena ramai, lalu mutlak menjadi paling benar.

Hal semacam ini bisa mejangkit dan mungkin pernah terjadi pada kita semua. Dimana kita merasa berkuasa ketika sedang bersama gerombolan, merasa bebas dan bersikap arogan. Sebagian besar dari kita pernah merasakannya, hanya saja kadarnya yang berbeda-beda. Menjadi bijaksana ketika sendirian jauh lebih mudah, ketimbang kita sedang berasama gerombolan.

0 Komentar